Coba Dengarkan Dulu

Hallo Ayah Bunda hebat! Bagaimana kabarnya setelah menjalani hari-hari di tengah pandemi ini? Apa semakin melelahkan dari hari ke hari? Rasa lelah biasanya bikin cepat emosi loh. Ada yang jadi lebih cepat emosi akhir-akhir ini?

Menjadi orang tua memang bukan hal yang mudah. Adakalanya rasa lelah menggelayuti kita, dan anak melakukan hal-hal yang membuat kita emosi. Menjadi orang tua adalah pekerjaan yang begitu Panjang tanpa libur. Sehingga rasa lelah terkadang berubah menjadi emosi yang tidak dapat dikendalikan.

Dalam survey yang dilakukan Pew Reseach Center tahun 2015, terdapat temuan bahwa 60% ibu menyatakan sulit untuk menyeimbangkan kehidupan karier dan keluarga, juga 39% mengaku menjadi orang tua itu melelahkan. Selain itu, dikutip dari Child Trends tahun 2013, 11% orang tua tunggal menunjukkan gejala-gejala depresi. Presentase ini lebih besar 6 poin disbanding orang tua lengkap.

Ada banyak sekali hal yang bisa menyulut emosi Ketika menjadi orang tua. Terkadang anak tantrum tidak mengenal waktu dan tempat, saat kita baru pulang bekerja, saat kita sedang sibuk melakukan pekerjaan penting, saat di tempat umum, atau bahkan di masa pandemi seperti ini, lebih banyak lagi yang membuat anak tantrum dan orang tua emosi. Terkadang anak juga melakukan hal-hal yang kita larang, menyakiti orang lain atau teman di sekolah, misalnya. Atau melakukan hal yang menurut kita nakal dan tidak baik. Dan ada lebih banyak lagi hal yang menyulut emosi orang tua.

Tapi coba renungkan sejenak, apa kita sudah benar-benar mengupayakan hal terbaik untuk anak kita? Apa kita benar-benar mengetahui anak kita? Apa kita sudah benar-benar mendengarkan anak kita?

Jangan-jangan, anak kita tantrum karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitarnya namun tidak dapat mengungkapkannya dengan baik selain tantrum. Atau anak menyakiti orang lain dan melakukan perbuatan yang menurut kita nakal karena dia tidak tahu cara mengendalikan emosinya. Atau bisa jadi anak melawan kita karena kita tidak memahaminya.

Mari Belajar Sabar Sedikit Lagi
Sebelum memperburuk suasana dan hubungan kita dengan anak, coba tahan sedikit lagi emosinya. Mari belajar menarik napas dan mengembuskannya perlahan jika emosi kita mulai naik. Jangan langsung melampiaskannya dengan bentakan atau bahkan pukulan. Kalau susah, duduk sejenak dan tenangkan pikiran. Setelah pikiran tenang, coba mulai ajak bicara anak kita, apa yang sedang terjadi.

Daripada membentak, “berhenti menangis!” pada anak yang sedang tantrum, coba peluk atau tenangkan dengan ucapan-ucapan kasih sayang. Biar anak tahu kalua orang tuanya ada untuknya.

Daripada memarahi anak atas perbuatannya dan menyebutnya anak nakal, coba ajak duduk bersama dengan santai sambil makan eskrim, kemudian tanyakan dengan lembut kenapa anak melakukan itu. Daripada membentak anak, coba dengarkan dulu apa yang dia inginkan atau keluhkan.

Mari tetap mengingat, biar bagaimana pun, anak kita hanyalah anak-anak yang sedang belajar segala sesuatu dalam kehidupan ini. Pasti selalu ada yang salah dalam proses belajar. Mereka bukan anak nakal, mereka hanya sedang belajar. Mereka membutuhkan kita, orang tuanya.

Coba lebih banyak lagi mendengarkan suara kecil mereka agar kita lebih memahami mereka lagi. Jika ada yang keliru, bilang baik-baik pada mereka kalua itu keliru. Tidak perlu ada bentakan.

Ah memang tidak semudah itu menjadi orang tua. Tapi jangan sampai kita menjadi orang tua yang berhenti belajar, terutama belajar sabar. Semoga keluarga menjadi tempat yang nyaman, baik untuk anak, maupun untuk orang tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *